Rabu, 06 November 2013

Semoga artikel-artikel yang ada di dalam blog ini bermanfaat bagi kita semua. Semua artikel dalam blog ini boleh di-copy dan disebarluaskan, tapi mohon untuk menyertakan link ke blog ini (www.lampuislam.blogspot.com).

Pertentangan Ayat-ayat Dalam Perjanjian Baru | Bagian Pertama




Kita tahu bahwa Kekristenan terbagi menjadi banyak sekte dan mereka mempunyai pemahaman tersendiri dalam memahami Bible. William Blake dalam bukunya yang berjudulThe Everlasting Gospel” berkata:
“Kita berdua membaca Bible siang dan malam, tapi kamu membacanya sebagai warna hitam sementara aku membacanya sebagai warna putih.”
Inilah kelakuan banyak orang Kristen. Pada dasarnya mereka menganggap pemahaman mereka tentang Bible yang paling benar dan pemahaman orang lain salah.
Islam tentu saja punya sudut pandang yang berbeda dalam memahami Bible. Islam percaya bahwa firman Tuhan dapat ditemukan di dalam Perjanjian Baru, namun Bible telah mengalami kerusakan. Sebagai hasilnya, Perjanjian Baru bukanlah firman Tuhan yang asli dan mengandung pertentangan. Oleh karena itu, Tuhan mengirimkan wahyu terakhir-Nya kepada Nabi Muhammad S.A.W. untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.
Sekarang kita akan mulai menganalisis Perjanjian Baru.
Pertama-tama, ada sekitar 5.700 manuskrip Yunani yang seluruh atau sebagian darinya adalah Perjanjian Baru. Semua manuskrip ini berbeda-beda. Bart D. Ehrman merupakan salah satu sarjana yang paling dihormati dalam bidang “kritik teks Bible.” Dia berkomentar:
“Kemungkinan, lebih mudah untuk menaruh masalah ini dalam studi perbandingan. Ada lebih banyak perbedaan dalam manuskrip Bible daripada banyaknya kata-kata di dalam Perjanjian Baru.”
 
Bahkan beberapa sarjana memperkirakan ada sebanyak 400.000 perbedaan di dalam manuskrip. Kenapa ada begitu banyak perbedaan dalam manuskrip-manuskrip ini? Para sarjana menyimpulkan bahwa para penulis Bible tidak terlatih, tidak dapat dipercaya, banyak yang tidak kompeten, banyak yang buta huruf, dan beberapa dari mereka tidak jujur. 

Setelah dilakukan penelusuran manuskrip, ternyata ketika seorang penulis Bible telah menyalin sebuah kalimat dengan benar, kemudian menyalin sebuah kalimat dan membuat kesalahan, dan setiap kali mereka menyalin setelahnya, mereka juga menyalin kesalahan itu terus-menerus. Jelas bahwa mereka menyalinnya huruf per huruf bukan kata per kata. Dengan kata lain, mereka tidak mengerti apa yang mereka salin, bahkan ketika mereka salah mengeja sebuah kata, maka mereka akan terus menyalin kata yang salah itu dan begitu seterusnya, dan tidak memperbaiki kesalahan itu.

Metzger dan Ehrman mengatakan:
“Hampir seluruhnya, jika tidak semua, dari para penulis Bible yang merupakan amatiran dalam seni menyalin dan ada banyak kesalahan, yang tanpa keraguan menyebabkan kerusakan dalam teks, seiring mereka terus menyalinnya.”

Dan yang lebih buruk lagi, beberapa penulis ditekan oleh doktrin-doktrin. Mereka menganut doktrin tertentu dan menuliskannya ke dalam manuskrip. Ehrman menyebutkan:
“Para penulis yang menyalin teksnya mengubah kata-katanya, dan lebih parah lagi jumlah perubahan yang disengaja untuk kepentingan doktrin begitu susah untuk ditaksir (dengan kata lain, begitu banyak).”

Bible merupakan kumpulan dari banyak kitab. Bible yang saat ini dibaca orang-orang terdiri dari 27 kitab. Dan sebanyak 9 dari 27 kitab adalah palsu atau diduga kuat dipalsukan. 9 kitab yang mana saja? Efesus, Kolose, II Tesalonika, I Timotius, II Timotius, Titus, I Petrus, II Petrus, dan Yudas. Sepertiga dari injil-injil di Perjanjian Baru merupakan kitab palsu atau diduga palsu.

Sekarang, apakah kita harus terkejut karenanya? Mmm... tidak juga. Kenapa? Mari kita lihat Gospel yang bernama Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Siapa yang menulisnya? Aku tahu mereka dinamakan Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, tapi siapa yang menulisnya?  

Menurut semua sarjana Kristen, tidak ada yang tahu siapa yang menulis kitab-kitab itu. Seperti yang dikatakan Ehrman:
“Hampir semua sarjana saat ini telah meninggalkan identitas dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Dan kitab-kitab itu ditulis dan disahkan oleh orang-orang yang tidak dikenal, yang tampaknya mereka adalah orang-orang Kristen Jerman yang berpendidikan, di sekitar abad pertama.”

Graham Stanton berkomentar:
“Semua gospel, tidak seperti hampir seluruh tulisan Graeco Roma, adalah tanpa nama. Nama-nama gospelnya yang seakan-akan memberikan nama dari si pengarang, (Gospel menurut....) bukanlah bagian dari manuskrip aslinya karena mereka baru ditambahkan pada abad ke-2.”

Mari kita pikirkan ini barang sejenak. Semua Bible yang ada saat ini bukanlah sebuah kitab suci dan janganlah berpura-pura seakan-akan Bible adalah kitab suci.
 Kita harus serius pada masalah ini. Agama bukanlah sekedar lelucon.Jika aku membawakanmu sebuah kitab dan menyuruhmu untuk menulis karya ilmiah berdasarkan kitab ini, maka karya ilmiahmu takkan diterima, karena kita tidak tahu referensinya dan kita tidak tahu siapa penulisnya. Pengarangnya bisa saja seorang pembohong, pengarangnya bisa saja orang yang tidak terlatih. Apakah kita harus mempercayakan keselamatan kita pada keempat Gospel yang tidak diketahui siapa penulisnya, tidak ada yang tahu kapan Gospel-gospel itu ditulis, dan kita tidak tahu mengapa mereka ditulis? Dan sebagai tambahan, 9 dari 27 injil adalah palsu atau diduga kuat palsu. Sekali lagi, apakah kau ingin mempercayakan keselamatanmu pada kitab ini?

Kita harus tahu bahwa Markus adalah sekretarisnya Petrus dan Lukas adalah temannya Paulus. Dalam Gospel Lukas dan Matius, ada daftar nama-nama murid Yesus, tapi Markus dan Lukas tidak masuk daftar nama itu, jadi mereka bukan muridnya Yesus. Meskipun jika mereka yang menulis Gospel, tapi mereka bukanlah murid Yesus.
Graham Stanton membuat pertanyaan yang menarik:
“Apa alasannya untuk menerima Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes sebagai kitab yang benar? Karena secara umum disetujui bahwa Markus dan Yohanes tidak ditulis oleh nabi. Dan Lukas kemungkinan tidak punya hubungan dengan nabi.”

Jadi siapa Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes? Bukan nabi dan tidak punya hubungan dengan nabi.”
Professor Ehrman bahkan lebih tajam lagi dalam analisisnya:
“Sarjana yang kritis sebagian besar sepakat bahwa Matius tidak menulis Gospel yang pertama, Yohanes tidak menulis Gospel yang keempat, dan Petrus tidak menulis I Petrus dan kemungkinan juga tidak menulis II Petrus. Tidak ada satupun kitab Perjanjian Baru yang pernah ditulis oleh murid-murid Yesus, tapi ada kitab yang ditulis oleh Nabi Paulus. Tentu saja, dari 13 kitab di dalam Perjanjian Baru yang berdasarkan namanya, 7 diantaranya ditulis oleh Paulus dan disepakati oleh hampir semua sarjana sebagai kitab otentik.”

Jadi jika 7 kitab diantaranya otentik, bagaimana dengan 6 kitab lainnya?
Jadi kenapa ada Gospel yang bernama Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes? Kesimpulannya adalah itu hanya sekedar nama dan ditulis oleh orang lain.

Oregon yang merupakan pendeta abad ke-3 menulis
“Pertentangan ayat antara manuskrip begitu banyak. Entah apakah karena kelalaian beberapa penyalin, atau melalui kesalahan para penulis, mereka lalai untuk mengecek ulang apa yang telah mereka tulis atau dalam proses pengecekan ulang, mereka menambahkan sesuatu atau menghapus semau mereka dan itulah yang membuat Perjanjian Baru seperti sekarang.

Ketika melihat Bible dan kita melihat Kekristenan, orang-orang awam cenderung bertanya jika umat Kristen percaya bahwa Tuhan itu satu, kenapa mereka juga mempercayai Trinitas? Trinitas berasal dari I Yohanes 5:7-8. Di dalam ayat inilah disebutkan tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Apa masalahnya dengan ayat ini? Masalahnya adalah, ayat ini adalah sebuah penyisipan yang menyesatkan. Ayat ini tidak ada di dalam manuskrip aslinya. Jika kau membaca Perjanjian Baru versi modern, yaitu Bible hasil kompilasi para sarjana seperti International Standard Version dan New Revised Standard Version, ayat ini telah diubah untuk merefleksikan makna yang sebenarnya dan tidak mendukung trinitas.
Ada masalah lainnya. Banyak ayat Perjanjian Baru yang bahkan sengaja dikosongkan. Lihatlah Kisah Para Rasul 8:37 dan coba baca, kau tidak bisa membacanya. Kenapa? Karena ayatnya kosong. Kisah Para Rasul ayat 36 ada, kemudian ayat 37 ada, kemudian ayat 38 juga ada, tapi Kisah Para Rasul ayat 37 sengaja dikosongkan. Mereka tidak tahu apa bunyi ayat itu. 
Dan bukan hanya itu, banyak lagi yang lainnya. Matius 17:21, 18:21, Markus 7:16, 9:44, 9:46, sebagian dari Lukas 9:56, 17:36, dan terus berlanjut. Semua ayat-ayat ini dinomorkan tapi kosong atau sebagian darinya tidak bisa dibaca karena bunyi ayatnya tidak diketahui.
Kesimpulannya adalah, sarjana-sarjana Kristen sendiri sadar bahwa Bible tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai kitab suci. Bible telah sangat banyak mengalami kerusakan, penghapusan, penambahan, perubahan, doktrin-doktrin yang ditambahkan, inilah kesimpulan para sarjana Kristen. Kita harus menghargai pendapat mereka, karena mereka adalah orang-orang Kristen sendiri dan mereka mengikuti ajaran Yesus Kristus, mereka mengaku sebagai orang-orang yang jujur. Jika kau juga jujur, maka kau akan mencari firman Tuhan yang sebenarnya. Dan untuk itu, kita harus mencarinya di luar Perjanjian Baru.
Menurut Islam, Perjanjian Baru tidak mengandung firman Tuhan. Memang ada sebagian yang merupakan firman Tuhan, tapi ada begitu banyak keraguan di dalam isinya. Mereka yang menghormati bukti-buktinya tentu akan setuju bahwa Perjanjian Baru bukanlah sebuah kitab suci. Tapi bagi mereka yang hanya ingin menutup mata dan telinga karena semua ini tidak terasa nyaman dan memang tidak mudah untuk menjadi orang yang jujur, maka silahkan saja. 
Tapi bagi kalian disana yang benar-benar ingin menekuni masalah ini, hadapilah fakta-faktanya. Dalam Perjanjian Baru ada begitu banyak pertentangan yang dapat kau lihat sendiri. Kau dapat kunjungi website-ku www.leveltruth.com dan kau dapat membaca lebih jauh tentang masalah ini. Aku akan memberikan contohnya padamu sekarang.
Matius 2:14 dan Lukas 2:39. Dalam satu ayat, keluarga Yesus dikabarkan melarikan diri ke Mesir tapi dalam ayat lainnya ke Nazareth. Mana yang benar? Matius 4:3-9 dan Lukas 4:3-11 bertentangan dimana Yesus dihasut oleh setan untuk melakukan sesuatu. Matius 6:9-13 dengan Lukas 11:2-4 menjelaskan tentang do’anya Yesus. The Jesus Seminar yang mendatangkan 300 sarjana Kristen sepakat bahwa kedua versi ini tidak sama. Dan 300 sarjana ini sepakat bahwa satu-satunya kata dalam do’anya Yesus yang merupakan do’a Kristen yang paling terkenal, yang dapat dipastikan benar-benar diucapkan oleh Yesus Kristus adalah kata “Bapa.” Dalam Matius 8:5 dengan Lukas 7:3 mengisahkan tentang perwira yang datang kepada Yesus Kristus. Dalam satu ayat, dia datang seorang diri, tapi dalam ayat yang lain, dia mengirim seorang utusan. Matius 9:18 dengan Markus 5:22 yang menceritakan tentang pria yang merupakan seorang penguasa yang datang kepada Yesus dan membicarakan tentang anaknya, yang menurut salah satu Gospel baru saja mati, tapi dalam Gospel yang lain dia belum mati dan sedang sekarat. Dalam Matius 11:13 dan 17:11 dengan Yohanes 1:21. Dalam salah satu gospel, Yohanes Pembabtis adalah Elia tapi dalam gospel lainnya dia bukan Elia.
Dan daftar kesalahannya terus berlanjut. Kita tidak punya waktu untuk membahas semuanya. Tapi untuk mereka yang ingin tahu, dapat mengunjungi websitenya. Yang dapat kulakukan sekarang adalah memohon kepada umat Kristen di luar sana, siapapun umat Kristen di luar sana yang mengaku sebagai hamba Tuhan, jujurlah kepada dirimu sendiri. Tolonglah, lakukan bukan untukku, karena tidak ada kaitannya denganku, tapi untuk dirimu sendiri. Mintalah petunjuk pada Tuhan, berdo’alah dengan tulus ikhlas, agar Dia mewahyukan agama kebenaran padamu, dan agar Dia menuntunmu ke dalam agama kebenaran.

Artikel selanjutnya: Pertentangan Ayat-ayat dalam Perjanjian Baru | Bagian Kedua 


Kunjungi YouTube Channel Islam Lentera Kehidupan: youtube.com/arceuszeldfer
Facebook Page Islam Lentera Kehidupan: Islam Lentera Kehidupan  



Baca juga artikel-artikel lainnya:


1 comments:

  1. subhanallah... :)
    Balas
Siapa Yesus Sebenarnya

Apakah Injil itu benar?                          YESUS.DOC

Apakah Injil di Perjanjian Baru adalah benar-benar sejarah saksi mata tentang Yesus Kristus, atau mungkinkah cerita itu telah diubah dalam perjalanan waktu?
Apakah kita bisa menerima catatan Perjanjian Baru hanya dengan iman, atau apakah ada bukti-bukti keandalannya?
Reporter televisi ABC, Peter Jennings, pernah berada di Israel dan menyiarkan acara khusus mengenai Yesus Kristus. Programnya, “Pencarian Yesus”, mengeksplorasi pertanyaan apakah Yesus di Perjanjian Baru secara historis akurat.
Jennings mengemukakan pendapat-pendapat terhadap Injil, dari Profesor John Dominic Crossan dari DePaul, tiga rekan Crossan dari Seminar Yesus dan dua ahli Kitab Suci lainnya. Seminar Yesus adalah kelompok ahli yang memperdebatkan kata-kata dan tindakan Yesus yang tercatat. Dan menggunakan tinta merah, merah muda, abu-abu atau hitam untuk mengambil suara yang mengindikasikan sejauh mana kebenaran yang mereka percayai dari pernyataan di Injil.
Beberapa komentar ternyata cukup mengejutkan. Dalam siaran televisi nasional Dr. Crossan tidak hanya meragukan lebih dari 80 persen perkataan Yesus. Tetapi dia juga menolak klaim Ke-Tuhan-an Yesus, mujizat-Nya, dan kebangkitan-Nya.
Dengan jelas Jennings terperangah oleh gambaran Yesus yang diperlihatkan oleh Crossan.
Mencari sejarah kebenaran Alkitab (Kitab Suci) selalu jadi berita. Itu sebabnya mengapa tiap tahun majalah Time dan Newsweek mempunyai berita utama tentang pencarian Maria, Yesus, Musa, atau Abraham.
Atau, bisa jadi tahun ini akan membahas, “Bob: Kisah yang belum terungkap, murid ke-13 yang hilang”.
Ini hiburan dan juga investigasi yang tidak akan ada atau menghasilkan jawaban, karena akan melenyapkan program selanjutnya di masa depan.
Ditampilkan, mereka yang pandangannya secara radikal berseberangan seperti sebuah episode ‘Survivor’. Dengan tanpa harapan, berputar-putar pada isu dan tidak memberi kejelasan.
Tapi laporan Jennings berfokus pada isu yang perlu memperoleh pemikiran serius. Crossan menjelaskan catatan orisinil tentang Yesus disebarkan dengan tradisi oral, dan belum ditulis hingga para rasul meninggal. Karena itu, mereka (catatan di Perjanjian Baru) tidak bisa diandalkan, dan gagal memberi gambaran akurat Yesus yang nyata. Bagaimana kita tahu bahwa (penjelasan Crossan) ini benar?

Hilang Dalam Terjemahan?

Jadi, apa yang diperlihatkan bukti-bukti? Kita mulai dengan dua pertanyaan mudah: Kapan dokumen orsinil Perjanjian Baru ditulis? Dan siapa penulisnya?
Kedua pertanyaan ini jelas penting. Jika catatan mengenai Yesus ditulis setelah para saksi mata meninggal, tidak seorangpun yang bisa memverifikasi akurasinya. Tapi jika Perjanjian Baru ditulis ketika para rasul masih hidup, maka keontetikannya dipastikan. Petrus bisa mengatakan terjadi pemalsuan atas namanya,”Hey, saya tidak menulis itu.” Dan Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes bisa merespon atas pertanyaan-pertanyaan atau tantangan yang ditujukan kepada pernyataan mereka tentang Yesus.
Penulis-penulis Perjanjian Baru mengklaim sumber penulisan Yesus dari saksi mata. Rasul Petrus menegaskan ini dalam salah satu suratnya,”Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita. Yesus Kristus sebagai raja, tapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya” (2 Petrus 1:16).
Bagian besar dari Perjanjian Baru adalah 13 surat rasul Paulus kepada gereja-gereja mula-mula dan individu-individu. Surat-surat Paulus, bertarik pertengahan tahun 40 dan pertengahan tahun 60-an (12 sampai 33 tahun setelah Kristus), merupakan catatan paling awal dari saksi mata akan pengajaran dan kehidupan Yesus. Will Durant menuliskan pentingnya secara historis surat-surat Paulus,”Bukti Kristen terhadap Kristus dimulai dengan surat-surat yang ditulis oleh Santo Paulus. … Tidak seorangpun mempertanyakan keberadaan Paulus, atau pertemuan-pertemuannya dengan Petrus, James, dan Yohanes; dan Paulus mengaku ‘iri’ orang-orang ini mengenal Kristus dari dekat (ketika masih hidup).[2]

Tapi Apa Benar?

Di banyak buku, majalah, siaran dokumenter televisi, Seminar Yesus memperkirakan Injil ditulis pada tahun 130 sampai 150 oleh penulis yang tidak dikenal. Jika tanggal (waktu penulisan) itu benar, maka akan ada jarak sekitar 100 tahun sejak Kristus meninggal (para ahli menempatkan kematian Yesus antara tahun 30 dan 33). Dan karena seluruh saksi mata sudah meninggal, Injil hanya bisa ditulis oleh penulis tak dikenal, yang berbohong.
Jadi, bukti apa yang kita miliki berkaitan dengan waktu penulisan Injil tentang Yesus benar-benar ditulis? Konsensus dari kebanyakan ahli adalah Injil ditulis oleh para rasul pada abad pertama. Mereka merujuk pada beberapa alasan, yang akan kita bahas di artikel ini. Untuk saat ini, bagaimanapun, perlu dicatat ada tiga bentuk utama pembuktian, yang mampu membangun kasus yang kuat untuk mencapai kesimpulan;
  • dukumen-dokumen awal dari sekte (kepercayaan) seperti Marcion dan sekolah Valentinus mengutip buku-buku Perjanjian Baru, tema, dan kata-katanya (Lihat “Senyum Mona Lisa“)
  • sejumlah penulisan sumber-sumber awal Kristen, seperti Clement dari Roma, Ignatius, dan Polycarp
  • penemuan kopi-kopi bagian dari Injil, yang diuji karbon berasal dari tahun 117.[3]
Arkeolog Alkitab William Albright menyimpulkan, berdasarkan risetnya bahwa semua buku Perjanjian Baru ditulis ketika sebagian besar rasul masih hidup. Dia menulis, “Kita sudah bisa menyatakan secara empati bahwa tidak ada lagi dasar kuat untuk menyatakan penulisan dari salah satu buku setelah sekitar tahun 80, dua generasi penuh sebelum tahun 130 sampai 150, yang diberikan oleh kritik lebih radikal terhadap Perjanjian Baru.”[4] Ditempat lain, Albright menempatkan penulisan seluruh Perjanjian Baru “sangat mungkin disekitar tahun 50 sampai tahun 75.”[5]
Bahkan ahli paling skeptis John AT Robinson menempatkan penulisan Perjanjian Baru lebih awal dari para ahli yang paling konservatif. Dalam Redating the New Testament (Mentanggalkan kembali Perjanjian Baru) Robinson menegaskan sebagian besar Perjanjian Baru ditulis pada tahun 40 sampai tahun 65. Penanggalan ini berarti hanya terpaut tujuh tahun setelah kematian Yesus.[6] Jika ini benar, setiap kesalahan historis akan langsung diungkapkan oleh para saksi mata dan juga oleh musuh-musuh KeKristenan.
Mari kita lihat jejak petunjuk-petunjuk yang membawa kita dari dokumen orsinil sampai kopi Perjanjian Baru sekarang ini.

Siapa Yang Butuh Kinko?

Tulisan asli para rasul sangat dihormati. Gereja-gereja mempelajarinya, saling berbagi, dengan hati-hati memelihara dan menyimpannya seperti harta karun.
Tapi, sayangnya, penyitaan Romawi, berlalunya 200 tahun, dan hukum kedua thermodinamika mengambil korbannya. Jadi, sekarang, apa ada, yang kita punyai, tulisan orisinal itu? Tidak ada. Manuskrip asli semuanya sudah lenyap (kendati tiap minggu pelajar Alkitab, tidak dirgukan, mendengar Antiques Roadshow berharap mungkin ada yang muncul).
Kendati begitu, Perjanjian Baru tidaklah sendirian mengalami nasib ini; tidak ada dokumen kuno, dari jaman yang sama, masih eksis sekarang ini. Sejarahwan tidak kuatir oleh karena ketiadaan manuskrip asli, jika mereka punya kopi-kopi yang bisa diandalkan untuk diteliti. Tapi apa ada kopi-kopi kuno Perjanjian Baru yang tersedia, jika ya, apakah kopi itu sama dengan yang aslinya.
Ketika jumlah gereja bertambah, ratusan kopi secara hati-hati dibuat dengan pengawasan para pemimpin gereja. Setiap surat dengan hati-hati dan tepat ditulis dengan tinta diatas perkamen (dibuat dari kulit domba/sapi) atau papyrus. Dan, sekarang ini, para ahli bisa mempelajari kopi (dan kopi dari kopi, dan kopi dari kopi — anda paham), yang masih ada, untuk memutuskan keotentikan dan sampai sangat dekat dengan dokumen orisinalnya.
Para ahli yang mempelajari literatur kuno telah mengembangkan kritik tekstual untuk meneliti dokumen-dokumen seperti The Odyssey, membandingkan mereka dengan dokumen kuno lain untuk menilai akurasinya. Baru-baru ini, sejarahwan militer Charles Sanders menambahkan kritik tekstual dengan membaginya jadi tiga bagian tes yang tidak hanya melihat kemurnian kopi tapi juga kredibilitas para penulisnya. Tesnya adalah:
  1. Tes bibliografi
  2. Tes pembuktian internal
  3. Tes pembuktian eksternal.[7]
Mari kita lihat apa yang terjadi saat kita terapkan semua tes itu kepada manuskrip kuno Perjanjian Baru.

Tes Bibliografi

Tes ini membandingkan dokumen dengan sejarah lain dari periode yang sama. Tes menanyakan:
  • Berapa banyak kopi dari dokumen orisinal yang masih ada?
  • Berapa besar jarak waktu antara tulisan asli dengan kopi, yang paling awal?
  • Seberapa baik dokumen ini dibandingkan dengan sejarah kuno lainnya?
Bayangkan jika kita hanya punya dua atau tiga kopi dari manuskrip asli Pernjanjian Baru. Sample bisa sangat kecil sehingga kita tidak bisa memverifikasi akurasinya. Disisi lain, jika kita punya ratusan atau bahkan ribuan, kita bisa dengan mudah mengesampingkan kesalahan karena dokumen-dokumen, yang ditulis ulang dengan kurang baik.
Jadi, seberapa baik Perjanjian Baru dibandingkan dengan tulisan kuno lain dipandang dari sisi jumlah kopi dan jarak waktu dari orisinalnya? Ada lebih dari 5.000 manuskrip Perjanjian Baru eksis hari ini dalam bahasa aslinya, Yunani. Jika dihitung bersama terjemahannya ke bahasa lain, jumlahnya meloncat jadi 24.000 — mulai dari abad ke 2 sampai ke 4.
Dibandingkan dengan dokumen kuno terbaik manuskrip sejarah, Illiad, yang ditulis Homer, dengan 643 kopi.[8] Dan ingat kebanyakan tulisan bersejarah kuno punya manuskrip jauh lebih sedikit (biasanya kurang dari 10). Ahli Perjanjian Baru Bruce Metzger menyatakan, “Dengan kontras angka ini (dibandingkan dengan manuskrip kuno lain), kritik tekstual Perjanjian Baru sangat kaya materialnya.”[9]

Jarak Waktu

Tidak hanya jumlah manuskrip itu penting, tapi juga jarak waktu antara ketika naskah asli ditulis dan tanggal kopinya. Sepanjang seribu tahun kopi ke kopi, tidak bisa diketahui jadi apa sebuah teks itu — tapi jika sekitar seratus tahun, ini lain ceritanya.
Kritikus Jerman, Ferdinand Christian Baur (1792 – 1860) sekali waktu pernah menyatakan Injil Yohanes belum ditulis sampai sekitar tahun 160, sehingga tidak mungkin ditulis langsung oleh Yohanes. Jika ini benar, tidak hanya mengurangi kredibilitas tulisan Yohanes tapi juga menimbulkan kecurigaan terahadap seluruh Perjanjian Baru. Tapi kemudian, ketika ada sebuah tempat penyimpanan naskah Perjanjian Baru dengan fragmen-fragmen papirus ditemukan di Mesir, diantaranya fragmen dari Injil Yohanes (berupa Yohanes 18:31-33) dikopi hanya 25 tahun setelah Yohanes menulis aslinya.
Metzger menjelaskan, “Sama seperti Robinson Crusoe, melihat hanya ada satu jejak kaki di pasir, mengambil kesimpulan hanya ada manusia lain, dengan dua kaki, ada dipulau itu bersama-sama dengan dia, jadi P52 (label fragmen itu) membuktikan keberadaan dan penggunaan empat buku Injil pada paruh pertama abad kedua di kota provinsi disepanjang sungai Nil sangat jauh dari tempat, yang secara tradisi, ditulisnya (kota Efesus di Asia Kecil).”[10] Penemuan dan penemuan lagi, arkeologi telah mengangkat sebagian besar Perjanjian Baru yang berjarak 150 tahun dari aslinya.[11]
Banyak dokumen-dokumen kuno lain punya jarak waktu antara 400 sampai 1.400 tahun. Contohnya, Poetics, yang ditulis Aristoteles tahun 343 sebelum masehi, kopi paling kunonya sudah bertarik sesudah masehi. dari 1.100 kopi, hanya ada 5 yang masih eksis. Namun tidak seorangpun mencari sejarah Plato, yang mengklaim dirinya adalah pemadam kebakaran dan bukan filsuf.
Pada kenyataannya, ada sebuah kopi seluruh Alkitab, yang hampir lengkap, disebut Codex Vaticanus, yang ditulis hanya sekitar 250 sampai 300 tahun setelah tulisan asli para rasul. Kopi Perjanjian Baru lengkap, yang paling kuno, dinamakan Codex Sinaiticus, sekarang disimpan di Museum Inggris.
Seperti Codex Vaticanus, kopi itu bertarik abad ke empat. Vaticanus dan Sinaiticus, dari awal sejarah Kristen, sama seperti manuskrip kuno Alkitab, mereka saling berbeda sedikit dan memberi kita gambaran sangat bagus mengenai apa yang seharusnya dikatakan oleh dokumen asli.
Bahkan kritikus John AT Robinson mengakui, “Kekayaan manuskrip dan diatas semuanya sempitnya jarak waktu antara tulisan asli dengan kopi, yang banyak, membuatnya terbukti kebenarannya, yang terbaik diantara semua tulisan kuno di dunia.”[12] Professor hukum John Warwick Montgomery menyatakan, “Untuk jadi skeptis atas hasil teks buku-buku Perjanjian Baru sama artinya mempersilakan seluruh teks klasik kuno jadi tidak jelas, karena tidak ada dokumen pada jaman kuno yang bibliografinya sebaik Perjanjian Baru.”[13]
Pada pokoknya: jika catatan Perjanjian Baru dibuat dan disirkulasikan begitu dekat dengan kejadian yang sebenarnya, gambaran mereka terhadap Yesus akurat. Namun bukti eksternal bukanlah satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan mengenai keandalan; para ahli juga menggunakan bukti internal untuk menjawab pertanyaan ini.

Penemuan Codex Sinaiticus

Pada tahun 1844, pakar Jerman, Constantine Tischendorf, sedang mencari manuskrip Perjanjian Baru. Secara tidak sengaja, dia menemukan satu ember penuh dengan halama-halaman kuno di sebuah biara, Santo Cathrerine, di Gunung Sinai. Ilmuwan Jerman ini sangat gembira sekaligus syok. Dia belum pernah melihat manuskrip Yunani setua itu. Tischendorf bertanya kepada penjaga perpustakaan mengenai kertas itu dan sangat terkejut ketika tahu halaman-halaman itu disobek – sobek dan digunakan sebagai bahan bakar. Dua ember penuh kertas-kertas itu telah dibakar!
Antusiasme Tischendorf membuat biarawan kuatir dan mereka tidak bersedia memperlihatkan kepadanya manuskrip-manuskrip lainnya. Namun, mereka mengijinkan Tischendorf mengambil 43 halaman, yang ditemukannya.
Lima belas tahun kemudian, Tischendorf kembali ke biara Sinai, saat itu dengan banguan dari Tsar Rusia Alexander II. Ketika dia sampai di sana, seorang biarawan membawa Tischendord ke kamarnya dan menarik sebuah manuskrip, yang dibungkus kain, tersimpan di rak bersama piring dan gelas. Tischendord langsung mengenali nilainya yang tinggi, seperti sebagian manuskrip yang sudah dia lihat sebelumnya.
Biara setuju menghadiahkan manuskrip itu kepada tsar Rusia sebagai pelindung Gereja Yunani. Pada tahun 1933 Uni Soviet menjual manuskrip kepada Museum Inggris seharga £100,000.
Codex Sinaiticus adalah salah satu dari manuskrip lengkap paling kuno dari Perjanjian Baru, yang kita miliki, dan termasuk yang paling penting. Beberapa orang berspekulasi dia adalah salah satu dari 50 Alkitab, yang Kaisar Konstantin perintahkan kepada Eusebius untuk disiapkan pada awal abad ke empat. Codex Sinaiticus telah sangat membantu para ahli memverifikasi akurasi Perjanjian Baru.

Tes Pembuktian Internal

Seperti seorang detektif yang baik, sejarahwan memverfikasi keandalan dengan mencari petunjuk-petunjuk internal. Petujuk semacam itu mengungkap motif-motif penulis dan kesediaan mereka untuk mengungkapkan detil-detil dan hal-hal lain yang bisa diverifikasi. Kunci petunjuk internal yang digunakan para ahli mentes keandalan adalah:
  • Konsistensi laporan saksi mata.
  • Detil nama, tempat, dan peristiwa
  • Surat-surat kepada individu atau kelompok kecil
  • hal-hal yang mempermalukan penulis
  • ada material yang tidak relevan atau kontra produktif
  • kekurangan material relevan[14]
Mari kita ambil contoh film Friday Night Lights. Disebutkan film berdasarkan kejadian sebenarnya, tapi seperti kebanyakan film, yang tidak ketat, mendasarkan diri pada kenyataan sebenarnya, film terus-menerus memunculkan pertanyaan, “Apa kejadiannya benar-benar seperti itu?” Jadi bagaimana anda menilai keandalan historisnya?
Satu petunjuk adalah kehadiran material tidak relevan. Katakanlah pada pertengahan film, sang pelatih, tanpa alasan yang jelas, menerima telepon mengkonfirmasikan bahwa ibunya terkena kanker otak. Kejadian itu tidak ada kaitan dengan cerita dan tidak pernah disinggung lagi. Satu-satunya penjelasan kehadiran fakta tidak relevan ini adalah hal itu benar-benar terjadi dan sutradara berkeinginan agar secara historis akurat.
Contoh lain, film yang sama. Mengikuti alur drama, kita ingin Permian Panthers memenangkan kejuaraan negara bagian. Tapi mereka kalah. Hal ini terasa kontra produktif dengan drama dan kita langsung tahu hal itu terjadi, karena dalam kehidupan nyata memang Permian kalah dalam pertandingan itu. Kehadiran material kontra produktif juga jadi petunjuk akurasi historis.
Akhirnya, pemakaian kota yang sebenarnya dan tempat-tempat yang dikenal, seperti Houston Astrodome, membawa kita pada elemen-elemen sejarah cerita itu, karena hal-hal itu mudah sekali dipalsukan atau diubah.
Hal-hal ini merupakan contoh bagaimana pembuktian internal bisa mendekatkan atau menjauhkan sebuah kesimpulan bahwa sebuah dokumen secara historis bisa diandalkan. Kita akan lihat pembuktian internal kesejarahan Perjanjian Baru.
Beberapa aspek Perjanjian Baru membantu kita menilai keandalannya berdasarkan isinya dan kualitasnya.

Konsistensi

Dokumen palsu tidak mencatat saksi mata atau tidak konsisten. Jadi mencari kontradiksi diantara Injil akan membuktikan mereka berisi kesalahan-kesalahan. Tapi pada saat yang sama, jika Injil menyatakan hal-hal yang sama, hal itu akan meningkatkan kecurigaan adanya kolusi. Itu seperti para konspirator mencoba menyepakati setiap detil rancangan mereka. Terlalu banyak konsistensi sama meragukannya dengan terlalu sedikit.
Saksi mata sebuah tindak kejahatan atau kecelakaan biasanya mengetahui kejadian pada garis besarnya, tapi melihatnya dari perspektif berbeda pada detilnya. Sama dengan itu, keempat Injil menggambarkan peristiwa kehidupan Yesus dari perspektif berbeda. Kendati begitu dari semua perspektif, para ahli Alkitab terkagum-kagum pada konsistensi catatan mereka dan gambaran jelas akan Yesus dan pengajaranNya, ketika mereka menyatukan semua laporan itu.

Detil

Sejarahwan suka sekali dengan detil-detil sebuah dokumen karena akan membuatnya mudah diverivikasi keandalannya. Surat-surat Paulus penuh dengan deti. Dan Injil banyak memuatnya. Contohnya, Injil Lukas dan buku Kisah Para Rasul ditulis untuk bangsawan bernama Teofilus , yang tidak diragukan orang terkemuka saat itu.
Jika tulisan ini hanyalah karangan dari para rasul, nama-nama palsu, tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa akan dengan cepat diketahui oleh para musuh mereka. Hal ini akan jadi kasus ‘Watergate’ abad pertama. Tapi banyak detil Pernjanjian Baru telah terbukti benar oleh verifikasi independen. Sejarahwan klasik Colin Hemer, contohnya, “mengidentifikasi 84 fakta di 16 bab Kisah Para Rasul yang sudah dikonfirmasikan oleh riset arkeologi.”[15]
Pada abad yang lalu, para ahli Alkitab, yang skeptis, menyerang Injil Lukas, yang ditulis Lukas, dan kapan ditulisnya, dengan menyatakan kitab itu ditulis pada abad kedua oleh penulis anonim (tidak diketahui). Arkeolog Sir William Ramsey yakin mereka benar, dan dia mulai menyelidiki. Setelah riset arkeologi yang luas, dia membalikkan pendapatnya. Ramsey menyimpulkan,”Lukas adalah sejarahwan nomer satu. รข€¦ Penulis ini harus ditempatkan bersama sejarahwan paling terkemuka. Tulisan sejarah Lukas luar biasa dipandang dari sisi kebenarannya (bisa dipercaya).”[16]
Kisah Para Rasul menceritakan perjalanan pelayanan Paulus, mendaftar tempat-tempat yand dikunjunginya, orang yang ditemuinya, pesan yang disampaikannya, dan hukuman yang dideritanya. Bisakah semua rincian ini dipalsukan? Sejarahwan Romawi, AN Sherwin, menulis, “Untuk Kisah Para Rasul konfirmasi historisnya melimpah. Tiap usaha untuk membantah dasar historisnya sekarang akan tampak kabur. Sejarahwan Romawi sudah terlalu lama meremehkannya.”[17]
Dari catatan Injil sampai surat-surat Paulus, para penulis Perjanjian Baru secara terbuka menggambarkan detil-detil, bahkan menyebutkan nama-nama individu yang hidup pada masa itu. Sejarahwan sedikitnya sudah memverifikasi 30 nama.[18]

Surat-Surat Untuk Kelompok Kecil

Teks,yang paling terlupakan, adalah dokumen yang ditujukan kepada khalayak umum, seperti artikel majalah ini (tidak diragukan banyak penjiplakan telah tersirkulasi di pasar gelap). Ahli sejarah Loois Gottschalk mencatat bahwa surat-surat personal dimaksudkan untuk pendengar berjumlah kecil (kelompok kecil) mempunya probilitas keandalan yang tinggi.[19] Pada kategori mana dokumen Perjanjian Baru berada?
Sebagian darinya jelas dimaksudkan untuk disebar-luaskan. Namun ada bagian besar dari Perjanjian Baru berisi surat-surat pribadi yang ditulis untuk kelompok kecil pendengar dan individu-individu. Dokumen-dokumen ini, paling tidak, tidak akan jadi kandidat utama untuk disalahkan.

Hal-Hal Memalukan

Kebanyakan penulis tidak ingin mempublikasi hal memalukan dirinya sendiri. Karena itu, sejarahwan mengamati bahwa dokumen-dokumen mengungkapkan hal-hal yang mempermalukan penulisnya biasanya bisa dipercaya. Apa yang dikatakan para penulis
Perjanjian Baru tentang diri mereka?
Mengejutkan, para penulis Perjanjian Baru memperlihatkan diri mereka sebagai terlalu tidak mengerti (bodoh), pengecut, dan tidak beriman. Contohnya, lihatlah tiga kali penyangkalan Petrus terhadap Yesus atau para murid bertengkar mengenai siapa diantara mereka yang terbesar — kedua cerita ini dicatat di Injil. Di gereja mula-mula, penghormatan terhadap para rasul sangatlah penting, karena itu memasukkan cerita seperti itu tidak masuk akal kecuali para rasul melaporkannya dengan kejujuran.[20]
Dalam buku The Story of Civilization, Will Durant menulis tentang para rasul,”Orang-orang ini bukanlah tipe yang akan dipilih untuk mengubah dunia Injil secara realistik memperlihatkan karakter mereka, dan dengan jujur mengekspose kesalahan-kesalahan mereka.”[21]

Material Kontra-Produktif Atau Tidak-Relevan.

Injil menceritakan kepada kita tentang kubur kosong Yesus ditemukan oleh perempuan, mekipun di Israel (jaman itu) kesaksian perempuan dipandang tidak bernilai atau berlaku dan tidak bisa diajukan dalam pengadilan. Ibu Yesus dan keluarganya dicatat pernah mengutarakan keyakinannya bahwa Dia (Yesus) tidak berpikir dengan benar. Sebagian kata-kata akhir Yesus di kayu salib adalah, “AllahKu, AllahKu, kenapa Engkau meninggalkanKu?” Dan daftar terus terisi oleh insiden-insiden, yang tercatat di Perjanjian Baru, sebagai kontra-produktif jika dimaksudkan oleh penulisnya sebagai upaya pewarisan akurat kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus.

Kekurangan Material Relevan.

Ironisnya (atau mungkin logis) bahwa hanya sedikit isu penting pada gereja abad pertama –misi non-Yahudi, anugrerah spiritual, baptis, kepemimpinan — tercatat dibahas langsung oleh Yesus sendiri. Jika para pengikutnya hanya ingin mencatat material yang mendorong perptumbuhan gereja, kenapa mereka tidak “membuat” instruksi-instruksi dari Yesus mengenai isu-isu itu. Pada satu kasus, Rasul Paulus menyatakan pada pokok bahasan tertentu, “Dalam hal ini, kita tidak menerima pengajaran dari Tuhan.”

Tes Pembuktian Eksternal

Bagian ketiga dan ukuran terakhir keandalan dokumen adalah tes pembuktian eksternal, yang bertanya, “Apakah catatan sejarah diluar Perjanjian Baru mengkonfirmasikan kebenarannya?” Jadi apa kata ahli sejarah non-Kristen mengenai Yesus Kristus.
“Secara keseluruhan, sedikitnya 17 tulisan non-Kristen mencatat lebih dari 50 detil tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus, ditambah rincian tentang gereja mula-mula.[22] Ini luar biasa, mengingat ketiadaan catatan sejarah lain yang kita miliki pada periode ini. Yesus disinggung oleh lebih banyak sumber (catatan sejarah) daripada laporan penaklukan (perang) yang dilancarkan Kaisar (Romawi) pada periode yang sama. Lebih luar biasa lagi karena konfirmasi-konfirmasi detil Perjanjian Baru bertarik 20 sampai 150 tahun setelah Kristus, “cukup cepat dengan standar histografi kuno.”[23]
Keandalan Perjanjian Baru diperkuat secara substantif oleh lebih dari 36.000 dokumen non-alkitab orang Kristen (kutipan-kutipan pernyataan para pemimpin gereja pada tiga abad pertama) bertarik, yang paling awal, hanya 10 tahun setelah penulisan buku terakhir Perjanjian Baru.[24] Jika seluruh kopi Perjanjian Baru hilang, anda bisa memproduksi seluruhnya kembali dari surat-surat dan dokumen itu, dan hanya kekurangan beberapa ayat saja.[25]
Profesor (pensiunan) Universitas Boston, Howard Clark Kee, menyimpulkan, “Hasil penelitian dari sumber-sumber diluar Perjanjian Baru yang diperoleh …bagi pengetahuan kita telah mengkonfirmasi eksistensi historis Yesus, kuasa luar biasaNya, pemujaan pengikutNya, berlanjutnya gerakan setelah Dia meninggal… dan penetrasi KeKristenan …. di Roma itu sendiri pada akhir abad pertama.”[26]
Jadi tes pembuktian eksternal dibangun dari bukti-bukti yang diberikan oleh tes-tes lainnya. Meskipun masih tetap ada yang skeptis secara radikal (yang mengambil kesimpulan dengan informasi yang tidak lengkap), Perjanjian Baru sudah memotret Yesus Kristus yang nyata dan tidak terbantahkan. Kendati ada beberapa yang tetap berbeda seperti Seminar Yesus, konsensus para ahli, apapun keyakinan religiusnya, mengkonformasikan Perjanjian Baru yang kita baca hari ini dengan tepat menggambarkan perkataan dan peristiwa kehidupan Yesus.
Clark Pinnock, profesor interpretasi di McMaster Divinity College, menyimpulkan dengan bagus ketika dia menyatakan, “Tidak ada dokumen dari dunia kuno yang dikonfirmasikan oleh begitu banyak teks dan testimoni historis. … (seorang) jujur tidak bisa mengesampingkan sumber-sumber seperti ini. Skeptisme (tidak percaya) berkaitan dengan kesejarahan KeKristenan akan berbasiskan irasionalitas.”[27]

Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus?” Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.
Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.
Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?
Klik di sini untuk melihat bukti-bukti untuk klaim yang paling fantastis yang pernah dibuat — kebangkitan Yesus Kristus!


ENDNOTES

  1. According to jesusseminar.org, “The Jesus Seminar was organized under the auspices of the Westar Institute to renew the quest of the historical Jesus. At the close of debate on each agenda item, Fellows of the Seminar vote, using colored beads to indicate the degree of authenticity of Jesus’ words or deeds.”
  2. Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 555.
  3. Josh McDowall, The New Evidence That Demands A Verdict (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1999), 38.
  4. William F. Albright, Recent Discoveries in Biblical Lands (New York: Funk & Wagnalls, 1955), 136.
  5. William F. Albright, “Toward a More Conservative View,” Christianity Today, January 18, 1993, 3.
  6. John A. T. Robinson, Redating the New Testament, quoted in Norman L. Geisler and Frank Turek, I Don’t Have Enough Faith to Be an Atheist (Wheaton, IL: Crossway, 2004), 243.
  7. McDowell, 33-68.
  8. McDowell, 34.
Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament (New York: Oxford University Press, 1992), 34.
  9. McDowell, 38.
  10. Metzger, 39.
  11. Metzger, 36-41.
  12. John A. T. Robinson, Can We Trust the New Testament? (Grand Rapids: Eerdmans, 1977), 36.
  13. Quoted in McDowell, 36.
  14. J. P. Moreland, Scaling the Secular City (Grand Rapids: Baker, 2000), 134-157.
  15. Quoted in Geisler and Turek, 256.
  16. Quoted in McDowell, 61.
  17. Quoted in McDowell, 64.
  18. Geisler and Turek, 269.
  19. J. P. Moreland, 136-137.
  20. Geisler and Turek, 276.
  21. Durant, 563.
  22. Gary R. Habermas, “Why I Believe the New Testament is Historically Reliable,” Why I am a Christian, eds Norman L. Geisler & Paul K. Hoffman (Grand Rapids, MI: Baker, 2001), 150.
  23. Ibid.
  24. Ibid.
  25. Metzger, 86.
  26. Quoted in McDowell, 135.
  27. Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life Publishers, 1981), 9.
Permission to reproduce this article: Publisher grants permission to reproduce this material without written approval, but only in its entirety and only for non-profit use. No part of this material may be altered or used out of context without publisher’s written permission. Printed copies of Y-Origins and Y-Jesus magazine may be ordered at: www.JesusOnline.com/product_page
© 2007 B&L Publications. This article is a supplement to Y-Jesus magazine by Bright Media Foundation & B&L Publications: Larry Chapman, Chief Editor.